Film sekelas janur kuning dan serangan fajar yang merupakan bentuk kontribusi rasa nasionalis sineas Indonesia jaman dulu yang jauh dari nilai-nilai komersil semata, sudah lama tidak dibuat lagi. Keseriusan dan niat para sineas pembuat Merah Putih apapun hasil filmnya patut di apresiasi setinggi-tingginya. Niat mereka membangkitkan kembali semangat perjuangan dan rasa nasionalisma melalui suatu film perang yang ambisius rasanya akan bisa menimbulkan dampak positif yang luar biasa baik pada generasi muda kita yang mulai kehilangan rasa nasionalismenya ataupun industri perfilman nasional yang punya sifat latah memproduksi film-film dg nilai komersial tinggi tapi rendah kualitasnya. Mudah2an mereka jadi latah membuat film2 perjuangan mengekor kesuksesan Merah Putih.
Sebagai contoh di negara dg industri perfilman paling besar di seluruh dunia yaitu AS, tak sedikit membuat film bertema sejarah untuk menghormati jasa-jasa pahlawan. Sebutlah film2 besar seperti Band of Brothers, Black Hawk Down, We were Soldiers dan Pearl Harbour yang bercerita tentang pengorbanan para pahlawan Amerika yang sangat inspiratif.
Semoga Merah Putih dapat menginspirasi seluruh production house di Indonesia untuk mampu membuat suatu film yang sarat akan pesan moril dan rasa hormat terhadap para pahlawan yang berkorban demi kebesaran bangsa namun dapat dikemas dengan baik sehingga memiliki nilai komersil yang tidak kecil...
Cerita
Setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada perang dunia II, Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara republik yang merdeka dan berdaulat pada 17 Agustus 1945. Pada tahun 1947 Belanda melancarkan agresi militer ke Indonesia untuk melanjutkan dominasi penjajahannya selama 350 tahun. Sekelompok pemuda Indonesia dengan berbagai latar belakang dipertemukan dan dipersatukan di suatu unit tempur tentara rakjat Indonesia di Jawa Tengah untuk menghadapi agresi belanda yang kejam. Marius seorang bangsawan jawa yang sok, Tomas petani dari sulawesi yang keluarganya dibantai belanda, Dayan yang sangat bersahaja dari Bali dan sang pemimpin Amir yang berprofesi sebagai guru. Setelah menamatkan pendidikan militer di sekolah perwira tentara rakyat Indonesia, mereka langsung berhadapan dengan kekuatan belanda yang jauh lebih besar, terkordinasi dan bersenjata lengkap. Tentara rakyat Indonesia tak mampu membendung agresi awal tersebut. Merek harus bahu membahu dan melupakan perbedaan mereka untuk mempertahankan tanah air.
Transformasi sebuah kelompok yang awalnya tercerai berai dan sarat konflik menjadi sebuah satuan tempur yang solid dan tangguh merupakan sebuah tema film2 holywood yang masih menarik untuk disimak. Secara keseluruhan film ini sangat menarik, baik dari sisi ide cerita pemilihan seting yang tepat, kualitas gambar yang prima dan properti yang cukup orisinil, seperti senapan, kendaraan dan kostum. Namun terlalu berharap banyak bila film ini akan bisa menyaingi black hawk down atau pearl harbour. Actionnya masih terasa lemah di editing, sehingga adegan demi adegan tidak mengalir cepat. Naskah dialognya juga terasa sangat holywood dengan kata2 semacam (english ver) : miss me?, I am dying..I feel cold.
Bagaimanapun film ini menceritakan superioritas bangsa asing tidak pernah menggentarkan generasi muda unggul kita pada masa itu...lalu kenapa generasi muda kita di masa ini merasa sangat inferior dari bangsa asing??? Putus dimana produksi generasi unggul kita dari masa lalu??
MERDEKA!!!!!
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
