Jumat, 14 Agustus 2009

Merah Putih - Part 1

Nonton film merah putih saat 17 agustusan punya kesan tersendiri yang mendalam. Sudah lama kita merindukan film dengan genre yang berbeda dari sekedar horor kacangan yang pake akhiran "kuntilanak" atau. Film komedi yang kebanyakan idenya hampir mirip satu sama lain.
Film sekelas janur kuning dan serangan fajar yang merupakan bentuk kontribusi rasa nasionalis sineas Indonesia jaman dulu yang jauh dari nilai-nilai komersil semata, sudah lama tidak dibuat lagi. Keseriusan dan niat para sineas pembuat Merah Putih apapun hasil filmnya patut di apresiasi setinggi-tingginya. Niat mereka membangkitkan kembali semangat perjuangan dan rasa nasionalisma melalui suatu film perang yang ambisius rasanya akan bisa menimbulkan dampak positif yang luar biasa baik pada generasi muda kita yang mulai kehilangan rasa nasionalismenya ataupun industri perfilman nasional yang punya sifat latah memproduksi film-film dg nilai komersial tinggi tapi rendah kualitasnya. Mudah2an mereka jadi latah membuat film2 perjuangan mengekor kesuksesan Merah Putih.
Sebagai contoh di negara dg industri perfilman paling besar di seluruh dunia yaitu AS, tak sedikit membuat film bertema sejarah untuk menghormati jasa-jasa pahlawan. Sebutlah film2 besar seperti Band of Brothers, Black Hawk Down, We were Soldiers dan Pearl Harbour yang bercerita tentang pengorbanan para pahlawan Amerika yang sangat inspiratif.
Semoga Merah Putih dapat menginspirasi seluruh production house di Indonesia untuk mampu membuat suatu film yang sarat akan pesan moril dan rasa hormat terhadap para pahlawan yang berkorban demi kebesaran bangsa namun dapat dikemas dengan baik sehingga memiliki nilai komersil yang tidak kecil...

Cerita
Setelah Jepang menyerah tanpa syarat pada perang dunia II, Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara republik yang merdeka dan berdaulat pada 17 Agustus 1945. Pada tahun 1947 Belanda melancarkan agresi militer ke Indonesia untuk melanjutkan dominasi penjajahannya selama 350 tahun. Sekelompok pemuda Indonesia dengan berbagai latar belakang dipertemukan dan dipersatukan di suatu unit tempur tentara rakjat Indonesia di Jawa Tengah untuk menghadapi agresi belanda yang kejam. Marius seorang bangsawan jawa yang sok, Tomas petani dari sulawesi yang keluarganya dibantai belanda, Dayan yang sangat bersahaja dari Bali dan sang pemimpin Amir yang berprofesi sebagai guru. Setelah menamatkan pendidikan militer di sekolah perwira tentara rakyat Indonesia, mereka langsung berhadapan dengan kekuatan belanda yang jauh lebih besar, terkordinasi dan bersenjata lengkap. Tentara rakyat Indonesia tak mampu membendung agresi awal tersebut. Merek harus bahu membahu dan melupakan perbedaan mereka untuk mempertahankan tanah air.
Transformasi sebuah kelompok yang awalnya tercerai berai dan sarat konflik menjadi sebuah satuan tempur yang solid dan tangguh merupakan sebuah tema film2 holywood yang masih menarik untuk disimak. Secara keseluruhan film ini sangat menarik, baik dari sisi ide cerita pemilihan seting yang tepat, kualitas gambar yang prima dan properti yang cukup orisinil, seperti senapan, kendaraan dan kostum. Namun terlalu berharap banyak bila film ini akan bisa menyaingi black hawk down atau pearl harbour. Actionnya masih terasa lemah di editing, sehingga adegan demi adegan tidak mengalir cepat. Naskah dialognya juga terasa sangat holywood dengan kata2 semacam (english ver) : miss me?, I am dying..I feel cold.
Bagaimanapun film ini menceritakan superioritas bangsa asing tidak pernah menggentarkan generasi muda unggul kita pada masa itu...lalu kenapa generasi muda kita di masa ini merasa sangat inferior dari bangsa asing??? Putus dimana produksi generasi unggul kita dari masa lalu??

MERDEKA!!!!!

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Senin, 10 Agustus 2009

Night at Museum : Battle of Smithsonian

Ben stiller kembali dalam sequel komedi sukses Night at Museum sebagai si penjaga malam yang berteman dengan tokoh2 sejarah penghuni museum. Pada sequel ini dikisahkan Daley (stiller) telah menjadi seorang pengusaha sukses. Karena kegiatannya yg super sibuk, Daley jadi mengabaikan persahabatan dengan kawan-kawannya si penghuni museum. Pada suatu ketika museum New York akan diremajakan dan mengganti seluruh wahana yg ada dengan virtual interface. Itu berarti merupakan akhir dari nasib penghuni musem. Mereka dikirim ke museum terbesar di dunia Smithsonian Museum untuk disimpan. Namun masalah timbul karena batu ajaib yg dapat memberi kehidupan bagi para boneka dibawa oleh si monyet nakal ke Smithsonian sehingga menghidupkan tokoh2 jahat masa lalu seperti Firaun, Alcapone dan Igor the Terible yang berambisi menguasai dunia. Sekali lagi Daley harus bahu membahu dengan Jedediah dan seisi museum Newyork untuk melawan kuasa jahat.

Dari sisi special effect film ini patut diacungi jempol. Animasi yang halus mampu menghidupkan patung cupid, boneka einstein dan pating raksasa Abe Lincoln dengan sempurna. Humor2 yang bersifat sindiran terhadap situasi dan tokoh tertentu juga terasa cukup lucu.
Namun cerita film ini terasa dipaksakan. Film ini seolah merupakan fragmen komedi yang tiap adegannya berdiri sendiri-sendiri.

Secara keseluruhan film ini cukup menghibur untuk ditonton pada saat luang bersama keluarga. DVD bajakannya pun sudah berkualitas bagus sehingga Rp.7000 terasa pantas untuk dibelanjakan.

Rating:
Cerita. 5/10
Pemain 6/10
Keseluruhan. 6/10
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Rabu, 05 Agustus 2009

Famous quote

Eversmann: Nobody asks to be a hero, it just sometimes turns out that way
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Rabu, 22 Juli 2009

GI JOE (Teaser)

Stephen Sommers will direct (here's hoping he reigns in the CG), from a script by Stuart Beattie. The story is set at Brussels-based GIJOE, an acronym for the Global Integrated Joint Operating Entity, and revolves around an international co-ed force of operatives who use high-tech equipment to battle Cobra, an evil org headed by a Scottish arms dealer. --Real Movie News 11/20/07This has since changed due to overwhelimg negative response from fans and even servicemen.
Well, GI Joe suppose to be the real American Hero with American spirit..not bunch of European troops wandering around screaming Yo Joe!! we will see how Stephen Sommers elaborate GI Joe to fullfill fans expectation

BLOOD : The Last Vampire

LOO
Perang antara manusia dan mahluk penghisap darah alias vampir merupakan tema yang masih asyik untuk dikemas menjadi sebuah film. Dalam Blood dikisahkan seorang gadis setengah vampir berusia ratusan tahun bernama Saya (Gianna Jun) bersumpah untuk menumpas seluruh vampir dimuka bumi. Dengan ilmu samurainya yang tinggi Saya banyak memburu dan menumpas seluruh vampir yang ditemuinya. Saya beroperasi secara terselubung didukung oleh sebuah lembaga dinas rahasia yang berusaha menutupi keberadaan vampir demi menghindari kepanikan umat manusia. Selain menumpas vampir, ternyata Saya memiliki agenda pribadi untuk membalaskan dendamnya terhadap Onigen (Koyuki) sang ratu vampir yang memiliki kekuatan luar biasa yang telah membunuh ayahnya dalam pertarungan tidak adil.
Pencarian Saya sampai pada sebuah pangkalan militer AS di Jepang. Demi melancarkan misinya Saya didaftarkan sebagai siswi SMA di pangkalan tersebut untuk dapat mengendus keberadaan sang ratu vampir. Pertarungan besar dengan Onigen pun tak terelakan lagi.

Blood : Last Vampire merupakan kisah yang diadaptasi dari manga Jepang yang terkenal. Chris Nahon sang sutradara debutan tampak ingin setia pada versi animasinya, sehingga film Blood menjadi kaya warna layaknya komik. Blood juga sedikit keluar dari pakem film vampir dimana si vampir tidak takut sinar matahari dan bawang putih.
Sayangnya pada beberapa adegan fighting, Nahon mencoba menjiplak gaya penyutradaraan Snyder (300) yang juga sukses menfilmkan komik, sehingga agak mengganggu. Secara keseluruhan film ini sangat ringan dan tidak memerlukan konsentrasi berlebihan untuk menikmatinya. Alur cerita sangat bisa ditebak dan efek khususnya terbilang biasa-biasa saja.
Untungnya film ini masih terselamatkan oleh sang penata laga kawakan Cory Yuen yang membuat kita males beranjak dari tempat duduk.

DVD
Versi bajakannya belum sempurna baik dari teks dan suara. Walaupun gambar sudah termasuk lumayan, namun usaha distributor untuk menutupi teks korea dengan efek buram sangat mengganggu, sehingga tidak enak ditonton.

Movie Meter :
Cerita 5/10
Film 6/10
Keseluruhan 6/10

Selasa, 09 Juni 2009

Dragon Ball : Evolution

Staring :
Chow Yun Fa


Sinopsis :
Diadaptasi dari komik jepang terkenal karya Akira Toriyama, Dragon Ball merupakan karya yang digemari oleh segala kalangan. Berkisah tentang 7 bola naga berkekuatan dahsyat yang dapat mengabulkan satu permintaan.
Bumi sedang diinvasi ole alien sakti nan jahat, Picolo. Goku dan kawan2 berusaha mengumpulkan bola naga untuk memanggil shen long sang naga sakti untuk memohon satu permintaan untuk menghentikan picolo.

Resensi :
Film ini disutradarai oleh James wong. Sutradara yg berpengalaman membuat film sci-fi mediocre ini berusaha menvisualisasikan salah satu komik terkenal jepang menjadi franchise holywood yg sukses. Hasilnya? Gagal Total!! Wong tidakb setia dengan versi aslinya bahkan membuatnya lebih parah

Selasa, 17 Maret 2009

Passchendaele

Genre : Drama/War

Cast : Paul Gross, Caroline Davernhas, Joe Dinicol

Director : Paul Gross

DVD

Cover DVD nya memang kental dengan aroma drama. Para penggemar film perang akan tertarik dengan siluet prajurit yang sedang berbaris di perbukitan ala Band of Brothers. Kualitas DVD yang Combo Format sudah mumpuni baik dari segi gambar, suara dan kualitas teks.

Sinopsis

Passchendaele adalah nama sebuah desa di Belgia yang merupakan wilayah strategis yang dipertahankan matia-matian oleh pasukan Kanda dari serbuan Jerman pada PD I. Sersan Michael Dunne (Paul Gross) adalah pahlawan perang di front prancis yang telah letih berperang baik secara mental maupun fisik. Oleh kesatuannya Sersan Dunne ditugaskan sebagai petugas perekrutan dan mengkampanyekan keberhasilan pasukan Kanada dalam perang melawan Jerman.

Pertemuannya dengan perawat bernama Sarah (Caroline Davernhas) berlanjut pada hubungan kekasih yang lebih jauh. Sarah mempunyai adik laki-laki bernama David (Joe Dinicol) yang memiliki semangat patriotisme dan ingin sekali bergabung dengan militer untuk bertempur di garis depan. Namun sayangnya David memiliki penyakit asma yang tidak memungkinkannya menjadi prajurit. Dengan segala cara, tanpa sepengtahuan sang kakak Sarah, akhirnya David dapat bergabung dengan pasukan Kanada dan dikirim ke salah satu medan tempur paling berdarah sepanjang sejarah pertempuran pasukan infantri Kanada, Passchendaele.

Demi cintanya kepada Sarah, Dunne terpaksa kembali ke medan tempur untuk melindungi David. Dan sekali lagi dia harus berhadapan dengan mimpi buruk yang telah ditinggalkannya, pembunuhan dan kekejaman.

Ulasan

Paul Gross memborong pembuatan film ini dengan menjadi pemeran utama, sutradara, sekaligus penulis naskah. Tampangnya yang berkesan pop dan terlalu lembut, tidak cocok mewakili sosok Sersan Dunne yang pahlawan perang dengan pengalaman pertempuran panjang.

Special effect dalam film ini tidak istimewa, walaupun tidak bisa dibilang buruk. Adegan prajurit yang terpental terkena ledakan bom cukup mengganggu karena ditarik menggunakan sling sehingga tidak terkesan alami (mirip film laga Hongkong). Di pertengahan film, alur cerita jadi agak mendayu-dayu karena adegan romantisme dua pasang tokohnya.

Bila anda penggemar film drama percintaan berlatar perang, sejenis Pearl Harbour (Ben afflect), rasanya film ini cocok buat ditonton. Bedanya film Pearl Harbour adegan perangnya lebih puanjaang dan serius.

Movie Meter :

Cast : 6/10

Plot : 6/10

Film : 6/10